Rabu, 14 Mei 2008

Membudayakan Belajar Berbasis TIK

Oleh :Muhamad Subarkah
Nim :1102406032

Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi.Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.

Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media.

Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera mungkin untuk diwujudkan.

(sumber :http://mgmptikbms.wordpress.com/)

Selasa, 13 Mei 2008

Sistem Pembelajaran E-Learning


Cetak E-mail
Oleh : SITI MUARIFAH
NIM : 1102406022

e-learning adalah proses pembelajaran yang disampaikan atau difasilitasi oleh teknologi elektronik, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Benyak sekali manfaat yang dapat diterima dari ketersediaan sistem e-learning antara lain melalui sistem pembelajaran e-learning dapat melakukan pertukaran ide dan ilmu pengetahuan antar perguruan tinggi dan masyarakat yang akan membawa dampak baik pada perkembangan kebudayaan, sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia secara menyeluruh.


Sistem pembelajaran e-learning juga akan dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai perkembangan teknologi. Melalui sistem ini juga mahasiswa tidak hanya menjadi objek bagi perkembangan ilmu pengetahuan namun mahasiswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Sistem pembelajaran e-learning juga merupakan sistem pembelajaran yang stategis karena interaksi belajar mengajar tidak hanya terbatas diruang kelas dan tata muka.

Pembelajaran dengan menggunakan media e-learning telah banyak

berkembang di perguruan tinggi terutama di luar negeri, seddangkan di

indonesia juga banyak di pakai. Media ini menggunakan sistem

pembelajaran dengan menggunakan media elektonik seperti, LAN,WAN atau

internet. Media pembelajaran ini sngat dipelukan juga bagi mahasiswa

untuk mempermudah dan mengikuti sistem pembelajaran yang terdapat di

luar negeri terutama di Malaysia.

Proses pembelajaran dan pengajaran telah mengalami banyak perubahan

seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan kaedah pengajaran

berbantukan computer haruslah diperluaskan lagi di sekolah-sekolah agar

ia dapat menyaingi perubah-perubahan pendidikan masa kini. Kertas kerja

ini adalah merupakan satu kertas kerja tinjauan tentang aplikasi ‘e

–learning’ di sekolah-sekolah Malaysia.Kertas ini kan mengupas

berkenaan dengan definasi tentang ‘e-learning’ serta perbandingan

antara pembelajaran tradisional dan pembelajaran ‘e-learning’. Ia

memberikan rasional kenapa ‘e-learning’ perlu dilaksanakan di

sekolah-sekolah di Malaysia. Empat faktor utama yang perlu

dipertimbangkan semasa memilih dan menilai bahan ‘e-learning’ juga

turut disentuh. Isu utama yang diperbincangkan ialah cabaran-cabaran

yang perlu ditangani dalam pelaksanaan ‘e-learning’ dan strategi

perlaksanaan di dalam bilik darjah Sebagai kesimpulan, kertas ini

mencadangkan beberapa bahan ‘e-learning’ yang dapat digunakan di semua

sekolah di Malaysia.

http://piksiinputserang.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=2

Memilih Sistem e-Learning Berbasis Open Source

Nama :Muhamad Subarkah
Nim :1102406032

Setelah berpusing-pusing ria dengan definisi dan terminologi e-Learning, kali ini kita akan membahas komponen e-Learning terutama berhubungan dengan pengembangan sistem Learning Management System (LMS). Sering disebut LMS ini disebut dengan dengan platform e-Learning atau Learning Content Management System (LCMS). Intinya LMS adalah aplikasi yang mengotomasi dan mem-virtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik. Memilih LMS jujur saja gampang-gampang susah, karena banyak faktor yang harus kita perhatikan. Kita bahas yuk gimana teknik memilih LMS yang baik, tentunya yang berbasis open source :)

LMS secara umum memiliki fitur-fitur standard pembelajaran elektronik antara lain:

  1. Fitur Kelengkapan Belajar Mengajar: Daftar Mata Kuliah dan Kategorinya, Silabus Mata Kuliah, Materi Kuliah (Berbasis Text atau Multimedia), Daftar Referensi atau Bahan Bacaan
  2. Fitur Diskusi dan Komunikasi: Forum Diskusi atau Mailing List, Instant Messenger untuk Komunikasi Realtime, Papan Pengumuman, Porfil dan Kontak Instruktur, File and Directory Sharing
  3. Fitur Ujian dan Penugasan: Ujian Online (Exam), Tugas Mandiri (Assignment), Rapor dan Penilaian

LMS PROPRIETARY DAN OPEN SOURCE

Ok lha terus LMS ini dapatnya dari mana? Instalasinya seperti apa? Dan apakah gratis atau berbayar?

Sabar ;) Seperti juga aplikasi lainnya, LMS ada yang bersifat proprietary software dan ada yang open source. Yang proprietary diantaranya adalah seperti di bawah. Meskipun saya yakin teman-teman sekalian nggak nafsu untuk gunakan :)

Sedangkan LMS yang open source diantaranya adalah:

PILIH LMS YANG MANA?

Ok banyak banget daftar aplikasi LMS-nya ;) Harus pilih yang mana nih? Pada hakekatnya pemilihan LMS disesuaikan dengan kebutuhan dan business process yang ada di sekolah dan universitas masing-masing. Yang fiturnya terlalu sederhana mungkin nggak pas untuk sekolah dan universitas yang ingin menerapkan e-Learning secara penuh. Di lain pihak LMS yang kompleks dan fiturnya banyak belum tentu sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Beberapa sekolah dan universitas bahkan ada yang tercukupi hanya dengan menggunakan CMS blog semacam wordpress ;) Sekali lagi jangan mengejar teknologi, kejarlah solusi untuk memecahkan masalah yang ada.

Menarik mempelajari hasil penelitian dari Sabine Graf dan Beate List [Graf, 2005] yang dibiayai oleh European Social Fund (ESF) tentang evaluasi dan komparasi LMS berbasis open source. Graf menggunakan satu metode evaluasi produk software bernama QWS (Qualitative Weight and Sum). QWS menghitung bobot (weight) menggunakan enam simbol kualitatif berdasarkan tingkat kepentingannya (importance level). Simbol-simbol kalau diurutkan dari yang paling penting: E (Essential), * (Extremely Valuable), # (Very Valuable), + (Valuable), | (Marginally Valuable), 0 (Not Valuable). QWS memungkinkan kita menetapkan maximum value sendiri, jadi tidak harus “E (Essential)” yang paling tinggi, bisa juga “# (Very Valuable)” misalnya. Sistem pengukuran kualitas software seperti Graf ini adalah berdasarkan “Product” dan bukan “Process“. Oh ya, saya juga pernah membahas masalah pengukuran kualitas software secara lengkap di artikel berjudul “Teknik Pengukuran Kualitas Perangkat Lunak

Bagian apa saja yang dievaluasi oleh Graf? Ada 8 kategori yang dievaluasi yaitu: Communication Tools, Learning Objects, Management of User Data, Usability, Adaptation, Tehnical Aspect, Administration dan Course Management. Masing-masing kategori memiliki subkategori, misalnya di Communication Tools akan dilihat fitur Forum, Char, Mail/Message, Announcements, Conferences, Collaboration, dan Synchronous/Asynchronous Tools. Subkategori lain bisa dilihat dari gambar di bawah.

Ok bagaimana hasilnya? Lengkapnya di gambar dibawah (klik untuk memperbesar). Secara umum Moodle boleh dikatakan merajai kompetisi ini, unggul terutama di kategori Communication Tools, Learning Objects, Management of User Data, Usability, dan Adaptation. ILIAS dan Dokeos di urutan kedua dan ketiga, sedangkan urutan keempat adalah Atutor, LON-CAPA, Spaghettilearning dan Open USS. Sakai dan dotLRN ada di posisi terakhir.

komparasilms-besar.gif
Komparasi dan Evaluasi LMS Open Source (Source: [Graf, 2005])

Harus diakui bahwa Moodle termasuk yang terbaik secara kelengkapan fitur dibandingkan dengan software LMS lain. Tercatat lebih dari tiga puluh ribu institusi pendidikan menggunakan Moodle sebagai engine dasar LMS mereka. Termasuk sebagian besar Sekolah dan Universitas di Indonesia menggunakan Moodle. Salah satu yang menarik di Moodle adalah proses customization yang relatif tidak merepotkan, bahkan meskipun kita tidak memahami skill pemrograman dengan baik. Template dan theme yang disediakan Moodle juga banyak, dan mendukung 40 bahasa termasuk bahasa Indonesia. Fitur “Lesson” Moodle juga menarik dan tidak ada di LMS lain. Fitur “Lesson” ini memungkinkan mengarahkan siswa dan peserta e-Learning diarahkan secara otomatis ke halaman lain sesuai dengan jawaban dari pertanyaan di suatu halaman. Salah satu kendala Moodle adalah penuhnya fitur yang diembed ke Moodle membuat time executionnya jadi tinggi, alias sangat berat dijalankan :) Kendala kecil lainnya misalnya error blank screen pada saat instalasi seperti yang pernah saya tulis di artikel ini.

Untuk keperluan e-Learning yang high traffic dan tidak memerlukan fitur e-Learning yang kompleks, saya merekomendasikan LMS lain seperti ILIAS, Dokeos atau Atutor. Saya menggunakan Atutor untuk e-Learning Braintutor dan terbukti handal mengelola puluhan ribu user dengan tingkat akses yang sangat tinggi. Atutor juga menarik diterapkan ke e-Learning perusahaan yang lebih mementingkan efisiensi pengaksesan LMS, user-friendly dan pemahaman terhadap bahan ajar daripada fitur chat, forum, tracking pengguna, dsb. Atutor jg termasuk pioneer dalam mengadopsi berbagai standard e-Learning. Disamping mengadopsi standard W3C WCAG, secara pemaketan konten juga memenuhi standard IMS/SCORM Content Packaging Specifications. Sebagai informasi, saat ini Moodle juga sudah mengadopsi standard SCORM di enginenya.

Bagaimanapun juga pilihan akhir ada di kita, pertimbangkan kebutuhan dan kultur sekolah dan universitas kita, sebelum memutuskan LMS mana yang mau dipakai. Ujicoba dengan berbagai LMS menarik dilakukan untuk melihat mana yang menurut kita pas. Tidak semua e-Learning yang saya implementasikan untuk berbagai sekolah, universitas dan perusahaan menggunakan engine Moodle, tapi kadang juga Atutor, ILIAS, Dokeos dan bahkan dotLRN.

STANDARISASI LMS

Dengan semakin banyaknya vendor mengembangkan LMS beserta kontennya, timbul suatu kebutuhan untuk menyusun standard sehingga meningkatkan interoperabilitas dan kerjasama antar vendor. Perjalanan pembuatan standard dalam eLearning sebenarnya sudah dimulai sejak era tahun 1988, dan mulai terimplementasikan dengan baik di era tahun 2000 keatas. Beberapa organisasi dan konsorsium yang mengeluarkan standard dalam dunia eLearning adalah:

Salah satu standard yang diterima banyak pihak adalah yang dikeluarkan ADL, yaitu Shareable Content Object Reference Model (SCORM). Spesifikasi SCORM mengkombinasikan elemen-elemen dari spesifikasi standard yang dikeluarkan oleh IEEE, AICC dan IMS. SCORM memungkinkan pengembang dan penyedia konten eLearning lebih konsisten dan mudah dalam implementasi karena sifat SCORM yang reusable. Standard SCORM berkembang dari versi SCORM 1.0, SCORM 1.1, SCORM 1.2, SCORM 2004. Saat ini sudah banyak Learning Management System (LMS) yang mendukung SCORM, termasuk didalamnya adalah aTutor dan Moodle untuk yang opensource, dan intraLearn untuk produk komersial. Dengan SCORM memungkinkan kita melakukan import dan export konten (bahan ajar) yang sudah kita buat di sebuah LMS ke LMS lain dengan mudah.

REFERENSI

  1. Sabine Graf and Beate List, An Evaluation of Open Source E-Learning Platforms Stressing Adaptation Issues, 2005
(sumber; www.artikel-it.com/2008/04/29/

Sistem Pembelajaran e-learning


Deasy Nirma Pradipta
1102406053


Perancangan E-learning yang Efektif ...


Epistemologi konstruktivisme dari pembelajaran adalah berdasarkan pada asumsi bahwa pembelajar terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Melalui pengalaman langsung tersebut maka pembelajar akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang dipelajari dan tidak hanya sekedar mengetahui apa yang dipelajarinya. Perkembangan konstruktivisme didorong dan didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan teknologi (TIK) yang sangat pesat.
E-learning, merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran yang menggunakan epistemologi konstruktivisme. Melalui e-learning pembelajar dapat terlibat dalam proses belajar secara mandiri (computer mediated learning) maupun secara terbimbing (computer assisted learning).
Peranan e-learning dalam meningkatkan efektifitas belajar tidak dapat dilepaskan dari konteks pengertian belajar yang efektif (baik menggunakan awalan “e” ataupun tidak). Belajar bukan hanya sekedar transfer informasi dari sumber belajar kepada pembelajar, tetapi harus menghasilkan perubahan yang terjadi akibat dari pengalaman (Gage, 1984).

E-learning dapat memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai :
1. Suplemen (Tambahan)
E-learning dapat berfungsi sebagai suplemen terhadap materi pembelajaran di sekolah, sehingga peserta didik dapat mendapatkan pengayaan materi. Dalam hal ini peserta didik memiliki kebebasan untuk memilih apakah akan memanfaatkan e-learning atau tidak.
2. Komplemen (Pelengkap)
E-learning berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas (Lewis, 2002).
a. Materi pembelajaran elektronik sebagai enhancement.
Peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai materi pembelajaran yang disampaikan guru dikelas (fast learners) dapat mengakses materi e-learning untuk memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang disajikan guru di kelas. Peserta didik dapat pula memanfaatkan materi e-learning untuk akselerasi (percepatan) belajar.
b. Materi pembelajaran elektronik sebagai program remedial.
Untuk peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran di kelas (slow learners), diberikan materi e-learning untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pembelajaran dan mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan.
3. Substitusi (Pengganti)
E-learning sebagai substitusi belum terbiasa dilakukan di Indonesia, namun beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Eropa memberikan beberapa alternatif kegiatan pembelajaran, yaitu : (1) sepenuhnya tatap muka (konvesional), (2) sebagian tatap muka dan sebagian melalui internet dan (3) sepenuhnya melalui internet.
Bahkan pada beberapa tahun terakhir “home schooling” menjadi alternatif pembelajaran bagi K-12.

* E-Learning tidak hanya memberikan manfaat pada proses belajar mengajar tetapi juga memberikan manfaat bagi mahasiswa atau pelajar dalam memperluas pergaulan dan wawasan. Dengan adanya media pembelajaran E-learning maka mahasiswa atau pelajar dapat lebih aktif.

* Sistem pembelajaran e-learning sangat dibutuhkan dikalangan dewasa dan pelajar saat ini. Sistem ini memberikan dampak yang baik sebab, penyesuaian terhadap perkembangan teknologi yang ada dan telah maju. Pembelajaran ini memberikan banyak pengalaman terhadap kalangan masyarakat terutama untuk pelajar dan mahasiswa. Pembelajaran ini memberikan banyak intelek dikalangan manapun yang seharusnya bisa di dapatkan dikalangan dunia saat ini.

Rabu, 07 Mei 2008

nama : Henni E. Ginting
nim : 1102406029

Deskripsi PSD atau Pemrosesan Sinyal Digital memegang peranan penting dalam perkembangan teknologi komputer dan khususnya teknolgi komunikasi, apalagi perkembangan saat ini menuju ke dunia digital. Banyak keunggulan yang bisa diberikan oleh PSD dibanding dengan Pemrosesan Sinyal Analog (PSA). Oleh karena itu, sudah selayaknya para mahasiswa di bidang Elektonika dan Instrumentasi (ELINS) dibekali dengan pemahaman dan penguasaan bidang Pemrosesan Sinyal Digital ini, agar nantinya siap memasuki dunia kerja dengan teknologi yang berkembang pesat saat ini.

Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti kuliah ini, diharapkan mahasiswa memahami (menjelaskan) dan mampu menerapkan konsep-konsep Pemrosesan Sinyal Digital (PSD) yang meliputi: Pengertian sinyal-sinyal dan sistem waktu-diskrit, Analisa Transformasi Fourier Waktu-Diskrit (TFWD atau Discrete-Time Fourier Transform – DTFT), Transformasi Z dan Transformasi Fourier Diskrit (TFD atau Discrete Fourier Transform – DFT). Selain itu juga diharapkan mahasiswa mampu mengikuti perkembangan teknologi PSD terutama dalam informasi hasil penelitian dan aplikasi-aplikasi konsep-konsep PSD yang dipelajari melalui media elektronik (terutama media internet).

sumber : http//www.i-elisa.ugm.ac.id
Aplikasi Web
Web merupakan salah satu tekonologi internet yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning).
Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut:
  • Synchronous System
    Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.
  • Asynchronous System
    Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.

Dengan fasilitas jaringan yang dimiliki oleh berbagai pendidikan tinggi atau institusi di Indonesia baik intranet maupun internet, sebenarnya sudah sangat mungkin untuk diterapkannya sistem pendukung e-Learning berbasis Web dengan menggunakan sistem synchronous atau asynchronous, namun pada dasarnya kedua sistem diatas biasanya digabungkan untuk menghasilkan suatu sistem yang efektif karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Dibeberapa negara yang sudah maju dengan kondisi infrastruktur jaringan kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi multimedia secara waktu nyata seperti video conference untuk kepentingan aplikasi e-Learning, tetapi untuk kondisi umum di Indonesia dimana infrastruktur jaringannya masih relatif terbatas akan mengalami hambatan dan menjadi tidak efektif. Namun demikian walaupun tanpa teknologi multimedia tersebut, sebenarnya dengan kondisi jaringan internet yang ada sekarang di Indonesia sangat memungkinkan, terutama dengan menggunakan sistem asynchronous ataupun dengan menggunakan sistem synchronous seperti chatting yang disesuaikan dengan sistem pendukung pendidikan yang akan dikembangkan.

3. Sistem Pendukung Pendididikan
Dengan adanya sistem ini proses pengembangan pengetahuan tidak hanya terjadi di dalam ruangan kelas saja dimana secara terpusat guru memberikan pelajaran secara searah, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar-mengajar. Mereka bisa terus berkomunikasi sesamanya kapan dan dimana saja dengan cara akses ke sistem yang tersedia secara online. Sistem seperti ini tidak saja akan menambah pengetahuan seluruh siswa, akan tetapi juga akan turut membantu meringankan beban guru dalam proses belajar-mengajar, karena dalam sistem ini beberapa fungsi guru dapat diambil alih dalam suatu program komputer yang dikenal dengan istilah agent [5].
Disamping itu, hasil dari proses dan hasil dari belajar-mengajar bisa disimpan datanya di dalam bentuk database, yang bisa dimanfaatkan untuk mengulang kembali proses belajar-mengajar yang lalu sebagai rujukan, sehingga bisa dihasilkan sajian materi pelajaran yang lebih baik lagi.

4. Collaboration
Collaboration didefinisikan sebagai kerjasama antar peserta dalam rangka mencapai tujuan bersama [1]. Collaboration tidak hanya sekedar menempatkan para peserta ke dalam kelompok-kelompok studi, tetapi diatur pula bagaimana mengkoordinasikan mereka supaya bisa bekerjasama dalam studi [2].
Saat ini penelitian di bidang kolaborasi melalui internet dikenal dengan istilah CSCL (Computer Supported Collaborative Learning), dimana pada prinsipnya CSCL berusaha untuk mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta dalam bentuk kerjasama dalam pemecahan masalah. Kenyataannya kolaborasi antar peserta cenderung lebih mudah dibandingkan dengan kolaborasi antara peserta dengan guru [6].
Gambar 1 menunjukkan konsep e-Learning dengan metoda CSCL, yang terdiri dari pemakai dan tool yang digunakan. Pemakai terdiri dari siswa dan guru yang membimbing, dimana siswa itu sendiri terbagi menjadi siswa dan siswa lain yang bertindak sebagai collaborator selama proses belajar. Para peserta saling berkolaborasi dengan tool yang tersedia melalui jaringan intranet atau internet, dimana guru mengarahkan jalannya kolaborasi supaya mencapai tujuan yang diiginkan.

Collaboration
Gambar 1: Collaboration

Dalam pelaksanaan sistem e-Learning, kolaborasi antar siswa akan menjadi faktor yang esensial [3][5], terutama pada sistem asynchronous dimana para siswa tidak secara langsung bisa mengetahui kondisi siswa lain, sehingga seandainya terjadi masalah dalam memahami makalah yang disediakan, akan terjadi kecenderungan untuk gagal mengikutinya dikarenakan kurangnya komunikasi antar siswa, sehingga timbul kecenderungan terperangkap pada kondisi standstill, sehingga menyebabkan hasil yang tidak diharapkan.
Ada 5 hal essensial [6] yang harus diperhatikan dalam menjalankan kolaborasi lewat internet, yaitu sebagai berikut:

(a) clear, positive interdependece among students
(b) regular group self-evaluation
(c) interpersonal behaviors that promote each member’s learning and success
(d) individual accountability and personal responsibility
(e) frequent use of appropriate interpersonal and small group social skills

Dalam proses kolaborasi antar siswa, guru bisa saja terlibat didalamnya secara tidak langsung, dalam rangka membantu proses kolaborasi dengan cara memberikan arahan berupa message untuk memecahkan masalah. Sehingga diharapkan proses kolaborasi menjadi lebih lancar.

5. Konfigurasi Sistem
Gambar 2 menunjukkan struktur global dari sistem pendukung untuk e-Learning. Pemakai sistem dalam hal ini siswa dan guru dapat mengakses ke sistem dengan menggunakan piranti lunak browser.

Struktur Sistem
Gambar 2: Struktur Sistem

Seperti pada gambar 2, Implementasi client/server untuk sistem penunjang pendidikan berbasis kolaborasi di internet, pada dasarnya harus memiliki bagian-bagian sebagai berikut:

  • Collaboration, untuk melakukan kerjasama antar siswa dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kolaborasi ini bisa diwujudkan dalam bentuk diskusi atau tanya-jawab dengan memanfaatkan fasilitas internet yang umum dipakai misalnya: e-mail, BBS, chatting, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan aplikasi yang akan dibuat.
  • Database, untuk menyimpan materi pelajaran dan record-record yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar khususnya proses kolaborasi.
  • Web Server, merupakan bagian mengatur akses ke sistem dan mengatur tampilan yang diperlukan dalam proses pendidikan. Termasuk pula pengaturan keamanan sistem.

Pengembang aplikasi seperti ini bisa dilakukan dengan menggunakan software sebagai berikut:

Platform OS Linux
Web Server Apache+Tomcat
Programming Java
Script Java Server Page
Database MySQL / Postgress
Frame Work Struts
Development Tool Eclipse

Keuntungan menggunakan software diatas yaitu seluruhnya merupakan Open Source yang bisa didownload secara gratis dari web site masing-masing, sehingga dalam implementasinya bisa ditekan biaya serendah mungkin, tanpa mengurangi realibilitas sistem itu sendiri. Keuntungan lainnya yaitu untuk akses ke sistem seperti ini tidak tergantung pada suatu platform operating system.
Oleh karena itu, dengan penerapan berbagai software Open Source seperti ini, diharapkan akan dicapai suatu sistem e-Learning yang aman, terpercaya, performance tinggi, multiplatform, dan biaya rendah.

6. Penutupan
Sejalan dengan perkembangan teknologi jaringan khususnya internet, dan pemerataan pemakaian fasilitas internet di Indonesia, maka sudah selayaknya untuk memulai penerapan teknologi ini di bidang pendidikan, yang diharapkan dapat menunjang peningkatkan mutu pendidikan khususnya pendidikan tinggi dan institusi yang relatif telah memiliki fasilitas jaringan komputer.
Dalam makalah ini telah dibahas berbagai fasilitas penunjang yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi internet dengan biaya yang seminimal mungkin melalui pemanfaatan Open Source tanpa mengurangi kualitas sistem.
Faktor kolaborasi menjadi penting dalam rangka menciptakan sistem pendidikan yang lebih efektif, karena dalam sistem pendidikan jarak jauh faktor komunikasi antar peserta akan menjadi penentu dalam menentukan perolehan pengetahuan yang dicapai oleh setiap siswa.
Permasalahan kedepan yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:

  • Pengembangan Student Model dari database untuk menformulasikan karakter siswa sehingga sistem mampu mendeteksi kondisi siswa yang bermasalah.
  • Pengaturan pemakaian tool synchronous dan asynchronous dalam pelaksanaan kolaborasi, supaya tidak terjadi duplikasi yang membahas masalah yang sama berulang-ulang.
  • Membuat fasilitas penyusunan makalah di Web yang memudahkan para guru tanpa perlu mengetahui perintah-perintah secara mendetail, yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk berkolaborasi.
sumber : http//www.informatika.lipi.go.id

Senin, 05 Mei 2008

E-learning: Inovasi Sistem Pembelajaran bagi Pamong Belajar

Oleh :Muhamad Subarkah
Nim :1102406032

Teknologi Informasi (TI) telah mengubah paradigma kehidupan manusia. Hampir seluruh aspek kehidupan serta aktivitas manusia dipengaruhi oleh peran serta TI untuk mendukungnya. Dalam tulisan ini dibahas E-Learning: sebagai suatu inovasi pembelajaran, serta alternatif solusi bagi perkembangan kebutuhan belajar pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal (PTK-PNF). Banyaknya faktor perubahan di era globalisasi turut serta berfungsi sebagai katalisator untuk revolusi sistem pembelajaran dari yang sebelumnya bersifat manual dan konvensional, menjadi suatu sistem yang efektif dan efisien dengan dukungan TI. Artikel ini membahas bagaimana TI juga turut serta mendukung teori pendidikan pembebasan seperti "Constructivist", "Collaborative Learning" yang telah mentransformasikan pola belajar "Teacher-Centred" menjadi "Student-Centred" dengan menciptakan budaya belajar mandiri bagi individu yang belajar.


Pendahuluan

Inovasi sistem pembelajaran tak akan pernah terhenti, karena berbagai kebutuhan manusia untuk belajar semakin waktu meningkat. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang sangat cepat dalam dasawarsa terakhir ini telah menampakkan tanda-tanda adanya revolusi informasi. Berkembangnya Internet sebagai salah satu temuan terpenting abad ini telah menyebabkan konvergensi macam-macam perkembangan teknologi di atas dalam usaha untuk menghasilkan informasi, kapanpun, dimanapun dan dengan apapun peralatan yang kita gunakan. Sebagai contoh saat ini telah mulai banyak dipergunakan telepon selular ataupun PDA (Personal Digital Appliances) yang telah dapat mengakses WWW maupun e-mail yang sebelumnya hanya dapat diakses melalui komputer. Contoh lain adalah munculnya Wireless Application Protocols (WAP) yang dapat mengirimkan bermacam-macam bentuk informasi kepada pengguna telepon selular. Informasipun dapat diakses dengan berbagai secara otomatis ke telepon selular (melalui WAP) maupun dengan pengiriman otomatis ke e-mail pribadi setiap individu.

Internet merupakan suatu kebutuhan penting dalam mengakses informasi secar a cepat danm tidak terikat oleh ruang dan waktu. Saat ini telah tumbuh menjamur warnet-warnet yang dapat melayani para pengguna Internet dengan biaya yang semakin murah pula. Teknologi yang dipakaipun mulai bervariasi, mulai dari penggunaan teknologi berkabel hingga yang menggunakan gelombang radio (wireless), maupun menggunakan broadband network yang dapat menghantarkan informasi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Internetpun mulai merevolusi hampir seluruh aktivitas serta proses bisnis yang ada di masyarakat dengan adanya paradigma "e" yang melekat pada bermacam-macam aktivitas, seperti e-business, e-commerce, e-procurement, e-delivery, sampai kepada e-education ataupun e-learning. Paradigma "e" yang berarti "electronic". Paradigma ini mulai melekat dalam seluruh aspek kehidupan kita, dan teknologi ini akan merubah jalan hidup manusia. Dengan munculnya paradigma "e", akan memicu kita untuk better (multimedia standard), faster (data communication process), accessibility (internet reaches any point), available web-based & collaborative software.

Saat ini, telah dirintis oleh Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP), dan juga Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB)/UPTD Provinsi untuk membangun "Portal/Website", yang masih bersifat "informatif", tetapi masih sedikit yang berani untuk memulai memberikan layanan pendidikan tertentu secara on-line kepada pengunjung situsnya (misalnya: http://www.brainbench.com). Namun hasilnya, belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan sasaran pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal (PTK-PNF).

Direktorat PTK-PNF, Ditjen PMTK berupaya secara sistematis untuk menggerakan potensi staf dan/atau Pamong Belajar BP-PLSP dan BPKB, yang memiliki latar belakang teknologi informasi untuk ikut berperan memikirkan sebuah inovasi sistem pembelajaran. Sayangnya menurut hemat penulis, belum optimalkannya untuk mendorong peran staf dan/atau Pamong Belajar yang memiliki latar belakang pendidikan teknologi pendidikan., Padahal sesungguhnya, sebuah karya inovasi yang baik merupakan akumulasi dari berbagai disiplin ilmu yang ada.

Dengan adanya perangkat lunak collaborative learning semacam Learning Space, macam-macam layanan TI tersebut dapat dikemas dalam secara terpadu. Dengan TI, bahkan tidak hanya aktivitas pembelajaran saja, tetapi kita dapat melakukan registrasi dan enrollment sampai ke taraf pengecekan nilai serta pengiriman sertifikat/tanda kelulusan semuanya dapat dilayani dengan melalui fasilitas yang kita bangun melalui situs web.

Pertanyaan yang mendasar perlu dijawab, mampukah kita membangun e-learning yang dapat memberikan layanan kebutuhan belajar bagi PTK-PNF. Tulisan ini dibuat, sebagai suatu kajian kritis bagi pengembang IT dan pengelola IT di BP-PLSP dan BPKB, serta para pemerhati lainnya bahwa kita pun semestinya bisa membangun e-learning yang handal dan representatif.

1. Inovasi Sistem Pembelajaran

Pembelajaran yang bermutu amatlah diperlukan setiap orang. Memasuki era globalisasi sekarang ini, setiap orang membutuhkan waktu untuk belajar, tak terkecuali PTK-PNF. Keterbatasan waktu dan biaya dalam penyelenggaraan diklat bagi Pamong Belajar, membutuhkan inovasi sistem pembelajaran yang berbasis teknologi informasi. Dengan demikian diharapkan terwujudnya transformasi pengetahuan yang cepat dan mudah diakses oleh setiap Pamong Belajar

Sekarang ini, BP-PLSP, BPKB dan beberapa SKB telah mempunyai web-site, namun semuanya masih terbatas hanya sebagai pusat informasi dan pusat pelayanan bagi pihak-pihak terkait, dan belum ada yang melaksanakan e-Education dalam hal e-learning atau distance-learning. Dukungan TI hanya baru terbatas dukungan untuk pelayanan administrasi, dan TI sebagai alat bantu pengajaran (off line) dan sarana komunikasi, juga pemanfaatan TI untuk membantu pengambilan keputusan. Pada hal yang diharapkan dapat menggunakan TI untuk "knowledge media" yaitu yang merupakan konfergensi dari komputer, telekomunikasi dan ilmu pembelajaran (learning science).

Metode yang dapat dipergunakan untuk untuk mengimplementasikan TI pada masing-masing UPT tersebut, antara lain:

· Memanfaatkan internet untuk komunikasi dan e-Education, dan jika mungkin menggunakan teknologi PC-TV.

· Memanfaatkan komputer untuk melakukan distance learning menggunakan teleconference.

· Mengadaptasi PBM yang sekarang untuk mencakup e-tutoring, dengan mengkom-binasikan antara e-mail dan computer-conferencing.

· Menggunakan teknologi CD-ROM untuk menyebarkan materi diklat

· Memanfaatkan Decision Support System (DSS), guna menguji kompetensi PTK-PNF secara online[1]

Secara umum dapat dikatakan bahwa dengan kemampuan multimedia dan perangkat lunak yang telah ada sekarang, aktivitas-aktivitas belajar mengajar di dalam kelas dapat digantikan oleh TI. Ikhtisar pemetaan antara TI dan aktivitas yang digantikannya dapat dilihat pada Tabel 1. Dengan adanya perangkat lunak collaborative learning semacam LearningSpace, macam-macam layanan TI tersebut dapat dikemas dalam satu kerangka yang kompak dan menarik. Sebagai contoh, layanan bahan ajar digital di Curtin University (http://www.curtin.edu.au) yang dulunya dilayani oleh masing-masing fakultas melalui situs web dengan pola-pola media yang variatif serta "berserakan", kini dipusatkan dalam satu pintu masuk untuk seluruh fakultas dengan penggunaan perangkat lunak WebCT.

Dengan TI, bahkan tidak hanya aktivitas belajar-mengajar saja, tetapi kita dapat melakukan registrasi dan enrollment sampai ke taraf pengecekan nilai serta pengiriman sertifikat/tanda kelulusan semuanya dapat dilayani dengan melalui fasilitas yang kita bangun melalui situs web.

Tabel 1. Pemetaan Aktivitas Belajar Mengajar dengan TI

No

Aktivitas

Teknologi Offline

Teknologi Online

1.

Tatap Muka

· Textbook (PDF, GhostView)

· Presentasi(PowerPoint+Audio, Lotus ScreenCam)

· Video (MPEG, MOV, AVI, Streaming)

· Animasi, Simulasi, Tutorial (Flash, Director)

· Gabungan kombinasi dari semua media

· Teleconferencing (Audio+Videoconferencing)

· Televisi/Radio

· Streaming video/audio

2.

Diskusi

· Mailing list

· Newsgroup

· Chatting (IRC, ICQ, Messenger)

· Audio/Videoconferencing

3.

Konsultasi

· E-mail

· Newsgroup

· Chatting (IRC, ICQ, Messenger)

· Audio/Videoconferencing

4.

Tugas

· E-mail

· Situs Web

· Audio/Videoconferencing (lisan)

5.

Ujian

· E-mail

· Formulir Ujian + Bank Soal

· Audio/Videoconferencing (lisan)

01. Pengembangan E-Learning Model

Perkembangan TI juga dapat memberikan dampak positif pada sistem pembelajaran bagi Pamong Belajar, sehingga transformasi pengetahuan dan informasi, tidak bergantung pada tempat dan waktu, dapat belajar sepanjang hidup dan materi lebih berbasis pada kasus, skill, kebutuhan pasar dll.

Model yang dapat dikembangkan nanti berbentuk off-line, real time, dan online. Model online ini dapat dilaksanakan dalam bentuk non interactive, semi interactive, serta fully interactive. Model diatas dapat dijelaskan sbb.: (a) Model off-line: materi disampaikan melalui jasa pos, media masa, dan media bahan dapat berupa CD-Rom, buku, modul dsb.; (b) Model online non-interactive: materi disampaikan melalui web, dan dipasang pada salah satu server, CD-Rom dipasang pada ftp-server. Format materi bisa dalam bentuk text, doc. atau pdf, dan diskusi dapat dilakukan melalui mailling list/web board; (c) Model online semi-interactive: menggunakan basis web atau videoconference, materi disampaikan melalui web, dan dipasang pada salah satu server, CD-Rom dipasang pada ftp-server, atau dilaksanakan langsung melalui broadcast. Web menyediakan chat, untuk alternatif diskusi interactive; (d) Model online fully-interactive: menggunakan basis video-conference: materi disampaikan secara langsung dengan jarngan multimedia (video, audio, text, chatboard). Perkuliahan dapat dilakukan secara paralel, tanpa batasan jarak (any where) dan dapat saling berinteraksi, melalui jaringan multimedia. Diskusi dapat dikerjakan langsung, melalui jangan multimedia yang tersedia, any time, any where, dan anything.

Pengembangan e-learning ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya sifat interaksi yang diinginkan, media penyampaian yang digunakan, banyaknya lokasi belajar, fasilitas yang digunakan, kualitas yang diinginkan dsb. Media penyampaian materi dapat dilaksanakan dalam beberapa cara, diantaranya adalah: (a) ITv (Instructional Televisi) atau Videotape: disini fasilitator/nara sum,ber dan PTK-PNF dapat berinteraksi satu arah atau dua arah, dibantu dengan saluran telepon; (b) Teleconferencing: menghubungkan secara langsung 2 lokasi atau lebih yang berjauhan, untuk menunjang komunikasi 2 arah yang interaktif. Tipenya sbb.: Audio conferencing (conference calling); Video conferencing; dan Computer conferencing.

Pengembangan e-learning sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting misalnya ketersediaan infrastruktur, software (lotus note yang mempunyai fasilitas untuk learning space), materi ajar dalam bentuk e-cource yang dipersiapkan oleh seorang expert dalam hal content, expert system, ketersediaan fasilitator/nara sumber yang mampu dan komit untuk melaksanakannya, serta biaya yang tersedia. Untuk itu perlu adanya suatu keberanian bagi UPT memulai kegiatan e-learning

Proses pembelajaran dengan model e-education difokuskan pada 3 hal penting:

· Self Learning: (a) Pamong Belajar diharapkan untuk dapat menentukan sendiri tempat, waktu & urutan belajar juga melakukan tes atas keberhasilan hasil belajarnya; (b) Tujuannya agar PTK-PNF bisa memperoleh tingkat pemahaman yang tinggi dalam hal tanggung jawab, keputusan sendiri & belajar otonomi.

· Tele-Learning: (a) Pamong Belajar meningkatkan kebebasan dalam belajar; (b) merubah paradigma pendidikan dari pembelajaran teori ke belajar yang memfokuskan pada kerja; (c) membuka lingkungan untuk belajar digital (menggunakan komputer).

· Social Intercourse: (a) Diskusi, bertujuan untuk menciptakan suatu iklim belajar dimana Pamong Belajar bisa bertemu dengan yang lain; (b) Interaksi dan berkomunikasi dalam proses pembelajaran; (c) Banyak sekali hal2 yang bernilai dalam pendidikan yang dapat dipakai dalam hidupnya.

Untuk mencapai semuanya itu, maka yang dibuat oleh upt diantaranya yaitu (a) membuat persepsi yang jelas tentang: apakah belajar dan mengajar akan seperti umur informasi ?, Model belajar baru yang mana yang digunakan?, dan Bagaimana keuangan untuk sistem yang baru? (b) Bagaimana meningkatkan kepercayaan diri bagi tim pengembang agar tidak skeptis, dan ragu2 untuk cooperate?; (c) Bagaimana fasilitator/nara sumber teknis mempersiapkan secara sistematis tugas baru yang diberikan dan dilakukan secara kontinu?

02. Pengembangan dan Strategi E-Learning Untuk UPT

e-Learning didefinisikan sebagai suatu cara baru dari belajar, di rumah, di tempat kerja dan disekolah, dengan menggunakan jaringan khusus seperti internet, intranet dan alat teknologi digital. Pada prinsipnya E-Learning menyediakan cara belajar cepat, mengurangi cost, meningkatkan akses untuk belajar, dan akuntabilitas jelas untuk semua partisipan dalam proses pembelajaran. E-Learning sangat penting karena e-learning dapat mengantarkan acountability, accessibility dan opportunity. E-learning mendorong kita untuk mengetahui banyak, dan belajar lebih cepat dengan biaya yang kecil. Dengan menggunakan e-learning maka belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja. Jadi, "E-Learning merupakan jaringan yang mempunyai kemampuan melakukan perubahan dengan cepat, penyimpanan/pengambilan kembali, pendistribusian dan membagi informasi atau instruksi".

Hal ini berarti untuk belajar, Pamong Belajar tidak perlu repot-repot datang ke suatu pelatihan untuk berinteraksi dengan fasilitator, karena semuanya dapat dicapai hanya melalui komputer anda yang terhubung dengan jaringan internet. Manfaat e-learning untuk pendidikan adalah : (a) informasi dari sumber yang besar dan bermacam-macam; (b) meningkatkan akses untuk belajar sepanjang hidup; (c) meningkatkan kualitas; (d) mengadopsi dengan cepat informasi baru dan program baru; dan (e) proses belajar dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.

04.1. Dukungan Teknologi Informasi Terhadap E-Learning

Dukungan TI terhadap e-learning dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Fasilitas

Dalam lingkungan pembelajaran yang berbasiskan web ada beberapa hal yang dikembangkan antara lain, menyiapkan bahan ajar yang baru dan mengkonversi bahan ajar yang sudah ada, menyiapkan kuis, menyiapkan kelas dan mailing lists, membuat dan scanning gambar, digitalisasi video dan mengembangkan file audio. Dalam beberapa kasus, perancang terlibat juga dalam penyiapan sistem Computer Managed Learning (CML) untuk memantau kegiatan Pamong Belajar dan pemberian nilai kuis dan ujian.

Setelah bahan pembelajaran dibangun dan diproduksi biasanya disimpan ke dalam sebuah atau lebih server. Informasi yang tersimpan seperti HTML, aplikasi lainnya yang berbasiskan web pages, file audio, grafik dan video. Komputer server bertidak sebagai pendistribusian bahan pembelajaran. Para pengguna dapat melakukan akses terhadap bahan pembelajaran yang mereka inginkan dengan menggunakan desktop atau laptop komputer. Dengan tersimpannya bahan pembelajaran di dalam server maka beberapa hal dapat dilakukan disana, diantaranya; pencarian, penyimpanan, indeks dan pengkonversian yang dilakukan dengan cepat dan mudah.

(/www.jugaguru.com/article/all/tahun/2006/bulan/10/tanggal/05/id/176/)

Arti e-learning dan manfaatnya

Menurut Allan J. Henderson, e-learning adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan teknologi komputer, atau biasanya Internet (The e-learning Question and Answer Book, 2003). Henderson menambahkan juga bahwa e-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran di kelas. William Horton menjelaskan bahwa e-learning merupakan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari Internet).
Pembelajaran jarak jauh. E-learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa saja berada di Jakarta, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di kota lain bahkan di negara lain. Namun, interaksi masih bisa dijalankan secara langsung ataupun dengan jeda waktu beberapa saat. Jadi, pembelajar bisa belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah yang terkoneksi dengan Internet, sedangkan materi belajar dikelola oleh sebuah perusahaan di Amerika Serikat, di Jepang ataupun di Inggris. Dengan cara ini, pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat ia mengakses ilmu yang dipelajari. Jika, pembelajaran ditunjang oleh perusahaan, maka si pembelajar bisa mengakses modul yang dipelajarinya dengan mengkoordinasikan waktu ia belajar dan waktu ia bekerja. Misalnya, jika pada pagi hari sampai siang hari, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, maka ia bisa menyisihkan waktu di sore hari menjelang pulang untuk belajar. Tugas-tugas yang sehubungan dengan e-learning yang ditekuni pun bisa disesuaikan waktu pengerjaannya dengan kesibukan pembelajar.
Pembelajaran dengan menggunakan media elektronik. E-learning, seperti juga namanya “Electronic Learning” disampaikan dengan menggunakan media elektronik yang terhubung dengan Internet (world wide web yang menghubungkan semua unit komputer di seluruh dunia yang terkoneksi dengan Internet) dan Intranet (jaringan yang bisa menghubungkan semua unit komputer dalam sebuah perusahaan). Jika Anda memiliki komputer yang terkoneksi dengan Internet, Anda sudah bisa berpartisipasi dalam e-learning. Dengan cara ini, jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi bisa jauh lebih besar dari pada cara belajar secara konvensional di ruang kelas (jumlah siswa tidak terbatas pada besarnya ruang kelas). Teknologi ini juga memungkinkan penyampaian pelajaran dengan kualitas yang relatif lebih standar dari pada pembelajaran di kelas yang tergantung pada “mood” dan kondisi fisik dari instruktur. Dalam e-learning, modul-modul yang sama (informasi, penampilan, dan kualitas pembelajaran) bisa diakses dalam bentuk yang sama oleh semua siswa yang mengaksesnya, sedangkan dalam pembelajaran konvensional di kelas, karena alasan kesehatan atau masalah pribadi, satu instruktur pun bisa memberikan pelajaran di beberapa kelas dengan kualitas yang berbeda.
Pembelajaran formal vs. informal. E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-learning untuk umum. E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
Pembelajaran yang di tunjang oleh para ahli di bidang masing-masing. Walaupun sepertinya e-learning diberikan melalui komputer (yang adalah benda mati), e-learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola dan “dihidupkan” oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu: Subject Matter Expert (SME), Instructional Designer (ID), Graphic Designer (GD) dan para ahli di bidang Learning Management System (LMS). SME merupakan nara sumber dari pelatihan yang disampaikan. ID bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari. GD mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari. Para ahli di bidang LMS mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya. Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh. Jadi, e-learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.

Apa manfaat e-learning bagi Anda?
Semakin banyak perusahaan dan individu yang memanfaatkan e-learning sebagai sarana untuk pelatihan dan pendidikan karena mereka melihat berbagai manfaat yang ditawarkan oleh pembelajaran berbasis web ini. Dari berbagai komentar yang dilontarkan, ada tiga persamaan dalam hal manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning.
Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
“Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan.
Biaya. Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning. Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secara finansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar dan akomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP). Dalam hal biaya finansial William Horton (Designing Web-Based Training, 2000) mengutip komentar beberapa perusahaan yang telah menikmati manfaat pengurangan biaya, antara lain: Buckman Laboratories berhasil mengurangi biaya pelatihan karyawan dari USD 2.4 juta menjadi USD 400,000; Aetna berhasil menghemat USD 3 juta untuk melatih 3000 karyawan; Hewlett-Packard bisa memotong biaya pelatihan bagi 700 insinyur mereka untuk produk-produk chip yang selalu diperbaharui, dari USD 7 juta menjadi USD 1.5 juta; Cisco mengurangi biaya pelatihan per karyawan dari USD 1200 - 1800 menjadi hanya USD 120 per orang. Biaya non-finansial yang bisa dihemat juga banyak, antara lain: produktivitas bisa dipertahankan bahkan diperbaiki karena pembelajar tidak harus meninggalkan pekerjaan yang sedang pada posisi sibuk untuk mengikuti pelatihan (jadwal pelatihan bisa diatur dan disebar dalam satu minggu ataupun satu bulan), daya saing juga bisa ditingkatkan karena karyawan bisa senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaannya, sementara bisa tetap melakukan pekerjaan rutinnya.
(www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2004/0217/man01/htm)
oleh :Indah W
nim :1102406030